Skip to main content

Puisi-Puisi Madanisme158 di penghujung Maret

KITA SATU KEPADUAN

oleh: Madanisme158
Kita dalam satu kepaduan
saling memukul dan menjatuhkan
Ada yang lari ketika dihantam
Ada yang bertahan walau ditikam
Kita dalam satu kepaduan
Kecurangan bisa menjadi perpisahan
Kecurangan bisa menjadi kesatuan
Kita dalam satu kepaduan
Beriringan melawan atau beriringan Menghilang.
Bercampur dan melebur sampai menjadi bubur.
Kita satu kepaduan
Menari-nari di penderitaan.
Menderita didalam tarian.
Mabuk kita dimabukkan khayalan.
Sadar kita sadar dihantam kenyataan.
Kita satu kepaduan Yang tidak tahu arah tujuan.
Kita satu kepaduan yang bingung akan cerita kemewahan.
Kita satu kepaduan yang akan mati karena keserakahan.
Kita satu kepaduan yang siap melawan tuhan karena takut akan perbedaan.
Hingga  kita Siuman bahwa kita adalah satu kepaduan bangkai yang hidup menjadi sumber permasalahan.

GERAM

oleh: Madanisme158
Persepsi tebak-tebakan.
Buaya mengendap ucapmu.
Dimana air yang kudiami dan dimana mangsa yang kuhabisi.
Yakin benar siulanmu yang berdenging ketelingaku.
Dasar mawar indah tanpa duri tetapi ber'api.
Terbakar sudah benang yang hendak kusambung.
Telah kucangkul ditengah hutan dan kutanam dalam-dalam Imagi kursi disebelahku untukmu.
Terbang tinggi sekali engkau nantinya, jika aku masih mengaitkan temali merah jambu dalam segumpal darahmu.
Dasar Khayalan si penginjak bumi dengan kepala di awan.
Puja-puji ada maksud kau tafsirkan emas.
Berbinar-binarlah kau Dengan kepalamu saja, tidak pada nyatanya.
Kembalilah pada jati dirimu tak pantas kau congkak.
Jangan sampai busuk dibalik sandiwara kesucian.

PEREMPUAN TANGGUH

oleh: Madanisme158
Aku tak tahu harus berkata apa
Yang kutahu engkau pernah tegar
Di sisi lembutmu ada ketegasan yang terpancar
Dikau perempuan dalam lamunan malam
Tak patut dikau berenang-renang dalam riak dalamnya air mata
Sesungguhnya dikau haruslah senyum seperti fotomu yang kulihat terpampang di media sosial itu
Senyummu bukan berarti kepalsuan akan tetapi kenyataan yang diusahakan.
Mekarlah kembali mengisi taman dan tumbuh di ketinggian pegunungan.
Jadilah mawar merah untuk mereka yang dirundung kesepian.
Berlarilah untuk kesekian kalinya agar mereka tidak perlu tahu dengan jatuhmu.
Buang ke lubang hitam yang pekat kenangan itu.
Sambut dengan tarian merah jambu yang akan menghampirimu untuk hidup yang baru.
Dalam hujan nanti kuharap bukan sepi dan sunyi yang kau ungkapkan tetapi dingin dalam kemesraan serta air Yang jatuh sebagai pelepas dahaga bagi benih-benih baru yang akan tumbuh mengisi dunia.
Gerakkan bibirmu dan tersenyumlah untuk aku dan mereka yang merindukanmu

MARGINAL KAMI

Oleh : madanisme158
Kuhujamkan kata demi kata kepada sang penindas
Aku goyah,aku berlari, aku menari, dan aku bersedih
Sudahilah tingkah bodoh mereka yang ditindas
Meraung raung terlempar dari rumahnya
Teriakkan kepedihan dalam dada ditengah jalanan
Ini negri siapa?
Ini tanah siapa?
Merdekalah merdekalah kami secepatnya
Ikan sulit dicari, sayur sudah mati, nasi tak mampu dibeli
Kami di gusur lagi hingga nanti mengapung dilautan yang tak bertepi.
Engkau bangun kerajaan baru ditepi pulau kami
Untuk siapa?
Rakyat yang mana?
Kami anak bangsa kau buang ke tempat sampah
Kami anak Pertiwi kau caci maki demi mereka yang berinvestasi
Dimana lagi kami akan menyusui anak kami?
Dimana lagi kami akan menikmati hidup ini?
Tak perduli..  Kau yang belum digusur tak perduli dengan kami.
Kau bebaskan dia berkeliaran
Kau bebaskan dia terus berperan
Kau bebaskan dia hingga nanti kau dikuburnya
Tidakkah sudah jelas pembangunan yang megah serta fasilitas canggih yang ada di kota untuk komunitas mereka saja.
Kita pribumi kembali ke hutan lagi di ungsikan ke pedalaman rimba belantara, Sehingga tidak tahu siapa yang sudah menjajah negri ini.
Kuli kita menjadi kuli di negri sendiri.
Tanah kami diambil alih.
Pemerintahan kamI akan berganti fungsi Bukan lagi melindungi kami tetapi melindungi mereka yang berinvestasi.
Sudah sudahilah pembodohan ini
Kami akan sampaikan kepada generasi pertiwi sejak dini, kenalilah mereka yang akan mengganti bendera sang saka merah putih.
Jangan biarkan bendera itu turun sejengkal saja dari Bumi nusantara ini.

MELIHAT GODOK
(dibuat untuk media online independen yaitu godok. Id)

Oleh: Madanisme158
Surat surat kabar sudah bertuan
Tidak bisa bertelanjang atau jungkir balik dikolomnya
Tenang sayang
Teman gondrongku punya godok
Engkau bisa mengangkangi tuan-tuan yang tidur di sofa hasil Keringat kuli buruh pabrik dan hasil panen si petani
Surat-surat kabar sudah bertuan
Tidak bisa Berteriak lapar atau mau buang air besar.
Tenang sayang
Teman satu gelas menikmati kopi punya godok.
Engkau bisa meludah,buang air kecil dan buang air besar sesuka hatimu di muka si tuan-tuan yang lebih dulu merampas Dapur dan toilet kita.
Surat-surat kabar sudah bertuan
Tidak bisa suka-suka berkata walau itu fakta
Tenang sayang
Temanku dulu saat dijalanan ada godok
Engkau bisa berkata apa saja dan memakai bahasa apa saja untuk menunjukkan sebuah fakta yang sebenarnya tentang si tuan buncit.

Comments

Popular posts from this blog

Semua jalanku

SILET DI UJUNG NADI Silet di ujung nadi ketika dia bergerak darah tertumpah dibumi apa arti darah jika silet-silet datang sendiri menghinggapi nadi silet-silet dari kaum pribumi denyut nadi mati ketika silet pribumi bergerak diatas nadi nadi-nadi tidak berdosa di abad modren ini tidak berharga silet-silet mengkilat dengan asah asahan hasil memperalat silet hanya bisa melet melihat nadi terpelet oleh kilaunya silet sunrise dan sunset hanya untuk kaum-kaum silet dari kelompok pribumi dasar silet kampret. kau gores nadi-nadi tak berdosa itu kau silet seluruh aset nadi-nadi tidak berdosa itu kemana lagi nadi-nadi ini berlari engkau silet telah menguasai nusantara ini wahai silet kudoakan engkau korslet dan hancur di himpit maghnet-maghnet birahimu. TUHAN TUHAN OPLOSAN Ketika nusantara di huni tuhan-tuhan oplosan berbicara untuk mengadili-berbicara untuk menghakimi-berbicara untuk memberi kau tuhan oplosan Nusantara tidak akan tertipu dengan kuasamu tuhan-tuhan oplosan ...

BERDIRI BERSAMA LPSK MELAWAN PENJAJAHAN KORUPSI

oleh : Ikhwan Ramadan Siregar             Kita dijajah dan hancur ditangan bangsa sendiri, sebuah pemandangan yang sudah lumrah kita lihat di televisi dan media-media berita lainnya, aktor penjajahan muncul dengan wajah tak bersalah dan seolah-olah itu sudah menjadi budaya di negara kita indonesia, mereka adalah aktor-aktor yang bergerak sebagai pelaku korupsi. Negara Indonesia dijajah oleh korupsi, penjajahan ini tidak membutuhkan senjata canggih seperti nuklir,granat,pedang,senapang atau senjata tajam lainnya, akan tetapi penjajahan ini mampu membunuh korbannya secara perlahan dan merusak lingkungan disekitarnya baik secara moral maupun fisik.             Logika sederhananya anak-anak yang putus sekolah karena lemahnya perekonomian keluarga,seharusnya bisa melanjutkan sekolahnya dengan bantuan dari pemerintah, akan tetapi fakta yang terjadi oknum di lembaga pemerintahan negara indonesi...

Alam Guru

SADAR DALAM MABUK Aku dilubang aktivitas jenuh yang mensenyumkan terbakar hingga mencair dan membeku kemudian terbakar lagi waktu ini dan saat ini semua disenyumkan disemangatkan ditertawakan goyah didalam tegar hingga di dramakan dalam ruh yang goyah antah berantah bertopeng fisik tegar drama kesadaran dalam sunyi dan memabukkan di keramaian aku pemabuk dalam ramai kepala-kepala yang menangis dan yang tertawa. dalam ramai terkadang mabuk dalam sadar Merongrong nada tak berwujud, tolak menolak memukul menendang tetapi tetap dalam mabuk kesadaran aku dilubang aktivitas jenuh disenyumkan aku mabuk dalam sadar dan sadar dalam mabuk aku terlihat aku ketika aku bersumyi di waktu aku. MELETUP LETUP di ciptakan yang kuasa waktu dan aku menunggu. meletup letup perasaanku ini masih jauh mendungku dan mentariku sendiri perasaanku di mendungku dan mentariku.sendiri meletup-letup masih jauh disana mendungku dan mentariku mendungku dan mentariku itu satu dan masih jauh kini...