Ketika di tanah perantauan selalu tersentuh hati ini mendengar lagu batak dari lagu yang bercerita kampung halaman,Kerja keras orang tua, nasehat ayah ditanah perantauan,ibu yang sudah mulai tua,pacar yang di tinggal dll.
Lagu batak menurutkku memiliki kekuatan magic yang bisa membuat seseorang yang garang,keras dan tegar terkulai lemah serta menjadi makhluk paling melow, lirik-lirik lagu batak seperti mantra yang selalu menarik-narik jiwa pendengarnya untuk selalu ingat kampung halaman dan mengingat jasa-jasa orang tua, lagu batak adalah alternatif bagiku agar tidak salah langkah dalam pergaulan serta membangkitkan semangatku untuk membuat orang tua bahagia, ada satu lagu yang paling sedih menurutku yang berjudul mardalan au, lagu ini bercerita perjalanan seseorang yang belum menemukan ujung dari perjalananya, ketika ia lelah menghadapi rintangan perjalanan hidupnya dia teringat akan seorang ibu yang berada dikampung halaman, elusan seorang ibulah yang dibutuhkan ketika semangat sudah jatuh,raga sudah lagi tidak sanggup untuk melakukan sebuah perjalanan ditanah perantauan, ibulah satu-satunya yang bisa mengobati semua itu. Lagu ini sangat-sangat menguras air mataku sebagai anak perantauan, dalan merantau hal seperti ini sangat sering dijumpai, dikala keadaan tiba-tiba seperti sendiri tiada yang bisa menolong, ibulah yang bisa mengatasi semua itu, dari situlah aku mendapatkan kesimpulan bahwa setua apapun umur kita,tetaplah didepan ibu kita hanya bayi yang tidak berdaya yang perlu dipapahnya dalam berjalan, disuapin olehnya ketika makan dan dimandikannya ketika sudah lelah pulang bermain-main, sentuhan ibu sangat menentramkan jiwa.
Disinilah aku menemukan betapa berharganya ibu itu, tidak ada benda atau makhluk apapun yang bisa menggantikan ibu kita, sungguh makhluk paling memalukan sejagat raya kita yang dilahirkan oleh ibu Dikarenakan kita tidak akan pernah bisa menebus atau membayar jasa ibu.
Lagu batak selalu mengingatkan aku akan kebesaran sosok ibu, terkadang tidak habis pikir didalam benakku betapa teganya aku yang pernah mengecewakannya, jika ada peraturan yang mengatur tentang perilaku anak kepada ibu, aku rela di kenakan pasal penjara seumur hidup karena telah pernah mengecewakan ibu, walaupun dalam agam sudah dijelaskan dengan berdoa kepada orangtuamu adalah salah satu alternatif membalas jasanya, sungguh itu tidaklah cukup menurutku, aku bukan orang yang condong matrealistis tetapi menurutku di dunia yang tampak dan nyata inilah untuk membuktikan pengabdianku sebagai anak kepada seorang ibu, tetapi begitu congkak ku pikir diriku jika aku berani mengatakan bahwa aku bisa membalas kebaikannya kepadaku di dunia yang nyata ini.
Lagu batak memang hal yang sangat baik untuk didengarkan agar tidak lupa dengan sosok ibu, lagu batak membuatku berpikir, ketika nanti ibuku sudah lemah sanggupkah aku untuk merawatnya seperti aku kecil dulu,
Begitu hinanya diriku bila aku menyia-nyiakan kesempatan untuk merawat ibuku.
Terimakasih ibu, terimakasih lagu batak yang telah membuatku menangis dan selalu mengingatkan aku akan sosok ibu.
oleh : Ikhwan Ramadan Siregar Kita dijajah dan hancur ditangan bangsa sendiri, sebuah pemandangan yang sudah lumrah kita lihat di televisi dan media-media berita lainnya, aktor penjajahan muncul dengan wajah tak bersalah dan seolah-olah itu sudah menjadi budaya di negara kita indonesia, mereka adalah aktor-aktor yang bergerak sebagai pelaku korupsi. Negara Indonesia dijajah oleh korupsi, penjajahan ini tidak membutuhkan senjata canggih seperti nuklir,granat,pedang,senapang atau senjata tajam lainnya, akan tetapi penjajahan ini mampu membunuh korbannya secara perlahan dan merusak lingkungan disekitarnya baik secara moral maupun fisik. Logika sederhananya anak-anak yang putus sekolah karena lemahnya perekonomian keluarga,seharusnya bisa melanjutkan sekolahnya dengan bantuan dari pemerintah, akan tetapi fakta yang terjadi oknum di lembaga pemerintahan negara indonesi...
Comments